Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Puisi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 April 2015

Bukan Aku ...

Kau yang selama ini menari-nari dalam darahku menjadi buram dan kabur, tiba-tiba menjadi tak kumengerti. Apa arti senyummu, apa makna pelukmu yang begitu erat mendekapku. Atau mengenai tatapmu yang seringkali sejurus berhenti sesaat pada tatapku. Haruskah kutanyakan pada Tuhan mengenai cinta, agar aku tak menjadi bodoh karena itu.
Pertanyaan ini seperti memburuku, kemanapun aku berlari ia seperti sedang bersembunyi di balik semak-semak dan siap mematikanku setiap saat. Sesekali aku dapat melihatnya, dan seketika aku terdiam; hening.
Semua pertanyaanku berserakan menjadi puing-puing asa yang pecah. Pada tatapan matamu yang   berpaling namun menancap perlahan-lahan. Apa yang bisa diharapkan pada sesuatu yang telah hancur? Menyatukan sisa puing-puing dengan perekat? Tidak. Biarkan ia tetap berserak, terinjak-injak lalu hilang perlahan.
Pada akhirnya semua hanya menjadi tatap yang kosong, diiringi sisa tawamu yang kutahu tidak akan bermuara pada hulu yang sama. Kemudian aku hanya diam, menatap pada suatu pola yang kumengerti betul. Aku telah terdampar pada suatu peluk yang hambar, terpaku pada tubuh yang kaku. Dan kau, saat ini tertawa riang pada bahu seorang kekasih; bukan aku.


Sabtu, 10 Januari 2015

untuk yang kesekian

keheningan tatapmu mengisaratkan
Peluk pada setiap rintik yang tinggalkan,
Binar matamu yang memecah lamunku,

Jumat, 09 Januari 2015

Padma


Kekasih ...

Kamis, 08 Januari 2015

Untuk Inisial "S" (Sebuah Prolog)

kekasih, kita adalah sepasang cermin
yang saling berhadapan
memperhatikan
untuk kemudian kusam
dan saling melupakan

Awal

Sudah saatnya
mengakhiri percakapan mengenai
KAU dan AKU
kini mari kita mulai
percakapan mengenai KITA

Selasa, 06 Januari 2015

Ya!

Karena hujan yg menghangatkan kita.
Antara kamu denganku
Di teduh sebuah ruang yg tak lebih dari 8 meter persegi,
Dan orang2 sibuk dengan lamunan atau obrolan mereka sendiri2.
Namun yg paling nyata kurasa hanya hadirmu,
Dan senyummu

Romantis (1)

Kekasih,
Aku rindu saat kita sudah kehabisan bahan bicara,
kemudian kita masing-masing diam,
bahkan tidak memperhatikan,
namun saling enggan untuk beranjak

Mimpi

Dalam tong sampah
kutemukan secarik kertas
bertuliskan...
"Telah Menikah Engkau dan Aku"

Untuk Inisial "S" (sebuah prolog)

Sekali lagi untuk inisial S ...
Seorang wanita dengan tahi lalat di pipinya,
yang senyumnya adalah penyembuh luka seketika.

Ya, kaulah matahari senja itu,
yang mematul pada serpihan gugusan awan mendung
kemudian memaksanya menjadi sebuah singgasana agung

Rabu, 31 Juli 2013

Puncak Rindu

Malam masih dingin dengan berbagai bahasanya
aku tetap diam tak bergeming dalam rindu
Ada gigil yang tak kunjung padam atau diam
Yang kutakutkan bukanlah adanya sosok hitam bayangan di antara kita
namun adanya keindahan yang tak kasat mata

Permainan detik semakin mencemaskanku
gelisah dalam menunggu waktu kita bersatu
Tak nyana ku sangka hitam adalah terang
lalu gulita adalah cahaya. 

Kutemui dirimu dalam cahaya yang gulita dan hitam yang terang.
Dengan siapapun kau pijakkan kakimu di tempat itu
ingatlah bahwa ada jejak yang pernah kita tilaskan.


Kamis, 25 Juli 2013

"CANGGUNG"


segelas pagi sedingin kopi
sayang sekali,
kejujuran yang kucari
belum menampakkan jati diri

rembulan dengan setengah lingkarnya
masih mengangkasa
masihkah kau "canggung"
saat bercinta denganku ?

ya, mungkin kenikmatan
yang kau cari sudah kau dapati kini
memang bercinta tidak memandang rupa
dan kenikmatannya tetap sama

jika memang tidak ada
aku tentu bisa menahannya

dengan siapa lagi kau bercinta ??


30 Juni 2013

Aku yakin masih ada cinta di antara kita yang sama besar

Aku yakin masih ada cinta di antara kita yang sama besar, coba kita resapi resah hati saat pertama kali memulai.

Kita pernah menangis seperti bayi yang berebut tetek ibunya, menggeliat dalam pelukan Sang Hidup yang membuat sedikit senyum saat mengenang. Aku juga ingat dulu, saat kita dalam keadaan saling menatap, dengan jantung yang berdetak keras dan dagu yang tertunduk. Semua diam, sampai saat ada mulut yang merekah, hingga banjirlah kelopak yang tak sanggup lagi menahan.

Kalian masih saja menari-nari dalam pikirkanku, memainkan setiap sudut menjadi kata. Membuatku hanyut dalam fatamorgana. Karna saat ini tak kutemukan lagi geliat kita, yang pernah membuat kita seperti semut bodoh yang terjebak dalam labirinnya sendiri.


Segerombolan serigala yang lupa akan sarangnya mungkin sedikit mirip dengan kita, kita menjadi seorang diri yang merangkak dalam waktu. Aku tidak bisa menyepuh waktu menjadi selalu indah, terlalu banyak zat yang membuat kita berkarat. Tetapi apa kita mau menyerah pada takdir, meminta Tuhan untuk memutar balik detik ??

Aku Memikirkan mu

aku memikirkan mu
saat senja sudah beranjak malam
saat kumbang mulai pulang

aku memikirkan mu
saat ini dimana tak ada suara
saat ini di sela kebisingan ada
saat ini di antara penat ku

aku memikirkan mu
selalu di dalam tawaku
dan selalu...
itu saja


27 Juni 2013

Aku dan Sajakku


menjelajahi setiap lekuk tubuhmu
menjelma menjadi angin
yang lembut dan mesra merangkul pundakmu
mendesakkan sedikit aroma malam

mengalir kedalam darahmu
memasuki setiap relung arteri dan vena
menyentuhmu dengan kata-kata
sebelum fajar datang merangkak

aku belum mati
dan sajakku akan tetap mengalir
dalam tubuhmu
dalam nafsumu
dalam setiap langkahmu


27 Juni 2013

Aku Adalah Kekasih Senja


meski ia tak selalu indah,
ia selalu membawa cerita tentang keberadaannya,
tanpa dialog atau pun sandiwara

ia tak pernah memberiku kepalsuan,
ia tulus dan nyata
aku paham setiap warnanya
meski ia tak pernah berkata



25 Juni 2013

Aku Adalah Butiran Yang Mencoba Menjaga Bongkahan Hati


Aku adalah butiran-butiran yang menetes dari sudut kelopak matamu saat ini, mengalir melewati lesung hati yang hampir patah. Terlalu besar bongkahan hati yang kau berikan, hingga aku tak cukup mampu untuk menjaganya tetap utuh. Maaf jika kuletakkan bongkahan yang kau berikan itu, Aku tak mau kau remuk dalam genggamanku, seperti embun yang terjatuh hingga menjadi lumpur. 
Biar itu dijaga oleh waktu, yang tak mampu kusentuh dan kurangkai. Aku hanya sekulumit noda yang pernah mencoba untuk menjaga, namun sia-sia. Ada seribu keluh yang ingin kukesahkan, namun saat tatap beradu aku hanya bisa diam. Meninggalkan butiran-butiran yang tak mampu ku usap. 
Aku tertawa hanya karna terlalu sulit melupakanmu dalam duka. Ada perih yang tak bisa terhapus, terutama saat memandang momentum kita menciptakan tawa, atau tangis. Ya, sudah cukup lama aku mencoba menjaga bongkahan itu, dan juga sudah cukup lama pula aku melawan gravitasi yang ingin membuatnya jatuh. 
Kelak kan kau temukan sosok yang mampu menjaga bongkahan hati itu. Supaya kau tetap menjadi embun yang tak menetes meski diguncang angin, tetap indah berkilauan saat diterpa cahaya matahari, dan tetap menyejukkan hati yang memilikimu. 
Biar kering aku menjadi udara, yang selalu menatap disekitarmu. Meski tak kau lihat, aku hidup dalam tawamu.




Ada hal yang lebih kutakutkan dari pada mati

Ada hal yang lebih kutakutkan dari pada mati, yaitu hidup tanpa memilikimu. Di sudut hati yang semakin kecil ini, aku semakin terhimpit tentang ketidak tahuan masa lalumu. Aku merasa gelisah dalam hening yang tak kuucap. Kurasa menacapkan paku dikepala lebih baik dari pada aku mendambakan dewa untuk memutar waktu.

Lalu aku hanya bungkam, seperti bebatuan dalam sungai yang perlahan terkikis namun hanya bisa diam. Ada perih yang selalu ku tahan, meski perlahan aku akan mengecil dan hilang. Terseret deras arus yang terus menerus menghantam. Aku hanya bagian kecil dari ribuan krikil yang pernah mengotori sungaimu.

Ketakutanku menjadi semakin nyata, kau tak pernah tahu aku menangis, karena kau hanya terus mengalir melalui pesakitanku. Kau tak perlu membuatku tersenyum untuk menghapusnya, kau hanya perlu menambah luka-luka lain sehingga aku terbiasa. Atau kau bisa biarkan waktu mempertahankannya, sehingga aku tau seberapa jauh aku harus bergerak, agar ku bisa kendalikan arus egomu.

Aku akan mencumbumu di bibir, seperti batu-batu yang lain. Namun ini berbeda, aku akan mencumbumu dengan cinta yang meski kau lupa akan tetap ada. Mengalir dari sekolan-sekolan kecil yang menghidupimu.