Ada hal yang lebih kutakutkan dari pada mati, yaitu hidup tanpa memilikimu. Di sudut hati yang semakin kecil ini, aku semakin terhimpit tentang ketidak tahuan masa lalumu. Aku merasa gelisah dalam hening yang tak kuucap. Kurasa menacapkan paku dikepala lebih baik dari pada aku mendambakan dewa untuk memutar waktu.
Lalu aku hanya bungkam, seperti bebatuan dalam sungai yang perlahan terkikis namun hanya bisa diam. Ada perih yang selalu ku tahan, meski perlahan aku akan mengecil dan hilang. Terseret deras arus yang terus menerus menghantam. Aku hanya bagian kecil dari ribuan krikil yang pernah mengotori sungaimu.
Ketakutanku menjadi semakin nyata, kau tak pernah tahu aku menangis, karena kau hanya terus mengalir melalui pesakitanku. Kau tak perlu membuatku tersenyum untuk menghapusnya, kau hanya perlu menambah luka-luka lain sehingga aku terbiasa. Atau kau bisa biarkan waktu mempertahankannya, sehingga aku tau seberapa jauh aku harus bergerak, agar ku bisa kendalikan arus egomu.
Aku akan mencumbumu di bibir, seperti batu-batu yang lain. Namun ini berbeda, aku akan mencumbumu dengan cinta yang meski kau lupa akan tetap ada. Mengalir dari sekolan-sekolan kecil yang menghidupimu.