Aku adalah butiran-butiran yang menetes dari sudut kelopak matamu saat ini, mengalir melewati lesung hati yang hampir patah. Terlalu besar bongkahan hati yang kau berikan, hingga aku tak cukup mampu untuk menjaganya tetap utuh. Maaf jika kuletakkan bongkahan yang kau berikan itu, Aku tak mau kau remuk dalam genggamanku, seperti embun yang terjatuh hingga menjadi lumpur.
Biar itu dijaga oleh waktu, yang tak mampu kusentuh dan kurangkai. Aku hanya sekulumit noda yang pernah mencoba untuk menjaga, namun sia-sia. Ada seribu keluh yang ingin kukesahkan, namun saat tatap beradu aku hanya bisa diam. Meninggalkan butiran-butiran yang tak mampu ku usap.
Aku tertawa hanya karna terlalu sulit melupakanmu dalam duka. Ada perih yang tak bisa terhapus, terutama saat memandang momentum kita menciptakan tawa, atau tangis. Ya, sudah cukup lama aku mencoba menjaga bongkahan itu, dan juga sudah cukup lama pula aku melawan gravitasi yang ingin membuatnya jatuh.
Kelak kan kau temukan sosok yang mampu menjaga bongkahan hati itu. Supaya kau tetap menjadi embun yang tak menetes meski diguncang angin, tetap indah berkilauan saat diterpa cahaya matahari, dan tetap menyejukkan hati yang memilikimu.
Biar kering aku menjadi udara, yang selalu menatap disekitarmu. Meski tak kau lihat, aku hidup dalam tawamu.